Maharaja Indra dikenal
sebagai Ninik Yang tertua di Hulu Kampar.Namun seberapa Tua nya, baik Tambo
Minangkabau maupun sumber-sumber lokal tidak dapat menjelaskannya. Untuk
mencari tahu hal ini, saya mengunjungi Thailand,Pattani dan Kelantan di awal tahun
2011. Disitu saya mendapat berbagai bukti yang jelas dari beberapa catatan kuno
Kuil Ayuthaya dan sumber akurat Dari catatan keluarga Putri Raja Anis, yang di
claim sebagai waris Puteri Saadong ke
VII, yang mendirikan negeri Pattani.
Beliau dalam usia yang masih
sangat muda, telah melawat 50 negara di dunia, untuk mencari tahu kisah awal
nenek moyang di negerinya. Untuk memastikan kebenaran sumber Raja Anis, saya
juga telah mengundang beliau untuk datang ke Tanah Minang dalam tahun yang sama
dengan membawa beberapa orang Bikhsu Senior Kuil Ayuthaya. Dari hasil kunjungan
serupa itu, kami berhasil mendapatkan bukti yang jelas hubungkaitnya antara
peninggalan kuno di Minangkabau dengan berbagai peninggalan kuno yang ada di
Kuil Ayuthaya, Pattani, dan milik Putri Saadong termasuk hubungannya dengan negeri Melaka .Terkait juga dengan kaitan geneologis
antara Datuk Mahkota dari Minangkabau dengan Tengku Mahkota di negeri
Semenanjung Melaya dalam di awal abad ke XVI, tepatnya tahun 1511.
Kunjungan saya ke Raja Muda Goa,
Karaeng Andi Kumala Hijau dalam tahun 2012
berikut penapakan peninggalan makam Datuk Mahkota di dalam bekas Benteng
Sanro Bone bertarikh 1580 dan Makam Lolo Bayo bertarikh 1610, makin memperjelas
hubungan ke Mbonang di Minangkabau.
Saya terpaksa ber gerilya
menempuh Lika liku kunjungan demikian karena tidak ada bantuan dana apapun dari
pihak Pemerintah dan ketiadaan sponsor yang memadai,karena hal yang demikian mestilah melalui rintangan dan perilaku yang
beragam.Sangat banyak suara sumbang dan sinisme yang diarahkan agar pembodohan
sejarah yang dilakukan penjajah di negeri ini tak terungkap. Disamping tentu
saja sikap yang melindungi berbagai kepentingan di dalamnya.Namun demikian,
bukti-bukti yang pagan di alam terbuka, tidak dapat ditutupi dengan berbagai
opini yang mungkin dilakukan kemudian.
Seperti telah diketahui, bahwa
Seri Maharaja Indra adalah anak Chandra Banhu, yang masa kecilnya dititipkan di
Chedi Ayuthaya pada masa ia melakukan perjalanan dari Shih Lih Foh Cih ke
Srilangka. Dari catatan keluarga Seri Ratu Putri Saadong dapat saya ketahui
mengapa ia mesti ke Srilangka. Bahwa
Chandra Banhu adalah Putra Banhu yang mendirikan Dinasti Syailendra yang
mendirikan Sriwijaya pada tahun 752 M. Banhu berasal dari Indo China, sekarang
Thailan dan Kambodia. Dari situlah bermula lembang kekuasaan “ BUNGA SETANGKAI”
yang sekarang masih hidup dan membekas dalam sistim adat yang ada di Mbonang
dan Masyarakat Kabupaten 50 kota, Minangkabau.
Pada masa Era kerajaan Mataram
Kuno, Dinasti Syailendra cukup Dominan apabila di bandingkan dengan Dinasti
Sanjaya. Ketika itu Dinasti Syailendra yang bercorak Budha Mahayana, di pimpin Raja
Indra. ( tahun 782-812) Raja Indra yang dimaksud, adalah Banhu yang mempunyai
sifat-sifat seperti Dewa ( Shywa). Di dalam sejarah kepemimpinan Raja Indra ini
disebut Raja Indra Varman. Syailendra mengadakan perniagaan ke Shih lih foh
cih, Seorang Putra Raja Indra, Samara Thungga dinikahkan dengan dewi Tara
seorang Puteri dari Shih lih Foh cih. Kemudian dalam tahun 790, Syailendra
menyerang dan mengalahkan Chenla ( Kambodia) mereka sempat berkuasa di Kambodia
beberapa tahun di sana,untuk kemudian kembali ke Mataram. Pada masa
pemerintahan Samaratungga Chandi Borobudur dibangun sampai selesai tahun 812-833
M. Ketika itu, para pengikut Sri Indravarman telah melakukan perniagaan sampai
ke pedalaman Sumatera, dengan bukti membawa aksara yang sama dan di temukan di
sebuah desa di daerah Taeh ( Kabupaten 50 kota) yang di kenal dengan BOROBONO.
Nama Taeh, diambil dari sebuah nama Bukit di Thailand Selatan, yakni Pattani.
Yakni Bukit Tha. Dalam bahasa Thay, adalah. Tha = Bukit. Ih = Emas , dengan
begitu yang di maksud Thaih, adalah Bukit Emas. Dengan penamaan Bukit Emas pada
negeri Taeh di 50 kota, secara implisit dapat di maklumi, bahwa perniagaan yang
berlangsung di Taeh ( 50 kota) adalah emas dan sejenisnya. Yang ketika itu,
antara Taeh dan Simelenggang adalah dua kawasan yang bersempadan dan merupakan
wilayah Pelabuhan sungai di pedalaman Sumatera terletak di hulu sungai Kampar.
Namun begitu, pertikaian kuasa
perniagaan ke wilayah Sumatera pun terjadi. Ketika Rakai Pikatan seorang putra
Raja Sanna dari Dinasti Sanjaya menikah dengan Pramodha Wardhani seorang putri
Samarathungga dari Dinasti Syailendra
tahun 833 M dan selanjutnya Rakai Pikatan menjadi Pangeran di Mataram sampai
tahun 856 M. Sejak itulah, pengaruh Rakai Pikatan yang beragama Hindu mulai
dominan di Mataram menggantikan pengaruh Syailendra yang bercorak Budha. Rakai
Pikatan bahkan mendepak seorang anak dari Samaratungga dengan Dewi Tara dalam
tahun 850M di tandai larinya Bala Putra Dewa ke Shih Lih Foh Cih, ketika itu
telah bernama Sriwijaya. Pelarian ini, merupakan bentuk bahwa Samaratungga
dewa, pulang kembali ke kampung asal ibunya, Dewi Tara.
Chandra Banhu adalah anak Bala
Putra Dewa dengan istrinya Dewi Tara, memperkuat kekuasaan ayah ibunya di
sriwijaya dengan memasuki wilayah pedalaman sumatera sampai ke Semenanjung
Melaya. Ketika Mpu Sendok, memindahkan kekuasaan Mataram ke kerajaan
Medang di dalam tahun 928M,ia meneruskan
kekuasaannya negeri-negeri Kedah, Perak dan Teluk Benggala. Di dalam
perjalanannya menuju Srilangka, ia menitikan anaknya ke Chedi Ayuthaya. Kepada
seorang Biksu disana ia meninggalkan pesan, jika anaknya sudah besar,
dikembalikan ke Sumatera untuk berkuasa di sana. Ada enam periode penggantian
kekuasaan di sriwijaya selama 80 Tahun kemudian,sampai ke Masa Chandra Banhu
yang dijuluki Raja Sri Indravarman ke VI, yakni tahun 1030 diketahui bahwa Raja
Indra, anak dari Chandra Banhu telah
mendirikan sebuah kawasan yang di sebut Indra Giri ( Sungai Indra) yang
meneruskan kuasanya sampai ke pedalaman Sumatera di Hulu Kampar.Salah seorang
keturunan Raja Indra,dalam tahun 1080.M
bernama Indra Jelita ( Nama Aslinya adalah.......) telah berkawin dengan Sang Sapurba
dan mendirikan negeri di Sungai Kayu Batarok delapan batu, di lereng Gunung
Merapi.Minangkabau.Indra Jelita dijuluki, Bundo Kanduang sementara Sang Sapurba
digelari Sri Maharaja, dalam sejarah kuno Minangkabau disebut Datuk Siri
Maharajo yang mendirikan balai tertua di Mungkal, kabupaten 50 kota. Chandra
Banhu meninggal di Teluk Benggala, dalam perjalanan kembali ke Kedah, dan
namanya di abadikan di kota itu.Sebagai Nakon Sri Thamarat. Sri dalam bahasa
Thai, artinya Raja. Tammarat = Dharma = Aturan Yang benar.
Bagaimanapun juga, sejak chedi
Perambanan sebagai pusat kekuatan Hindu terbesar di Asia Tenggara didirikan
oleh Raja Tulodong dalam tahun 910, dapat menyebabkan kekuasaan dan Pengaruh
Agama Budha menjadi makin menyempit, ditandai dengan dipindahkannya pusat
kekuasan kerajaan Mataram ke kerajaan Medang pada tahun 928 Oleh Mpu Sendok.
Permpindahan ini di duga untuk menghindari serangan kembali dari kekuatan
Raja-Raja Syailendra yang kembali menguat di Sriwijaya dan semenanjung Melaya.
Kekuatan di maksud, karena Raja Indra telah menjalin hubungan wilayah
perniagaan dengan Lobu Tua dekat Barus di sekitar tahun 928-950 M.Perniagaan
mana telah berlangsung dengan di dukung oleh saudagar-saudagar Timur Tengah
yang Mencari Khamper. Sementara jalur perniagaan antara selat Melaka telah
dikuasai orang-orang sriwijaya yang berhubungan erat Sumatera melalui jalur
perniagaan muara Kampar, yang disebut Kampung DOMO. Perkembangan yang terjadi
di Hulu Kampar di tandai dengan Batu Empat Ninik, Perkembangan negeri-negeri
selanjutnya berada dalam rentang kendali empat Ninik yang asal. Sumatera yang
disebut kampung Domo telah dipimpin seorang penghulu yang disebut RAJO DI
BALAI. Di bawah rentang kendali Ninik Rajo di Balai ini, terbentuklah sistim
Andiko yang 44 Kamar.
Salah satu pelabuhan kuno yang
terdapat di semenanjung Melaya dan berhubungan dengan Kampar ketika itu adalah
Kalah, tempat ini adalah satu kawasan perniagaan yang besar di tahun 860-910
M.Ketika itu Sriwijaya berkuasa di sana termasuk Thailand selatan (ketika ini
Pattani), hal ini di buktikan dengan berdirinya sebuah wihara di Nalanda teluk
Benggala, yang serupa dan sebangun dengan chedi Dharawati di Thailand. Kelompok
orang-orang India, yang kemudian di sebut Mandala Holling ( Mandailing)
sebelumnya adalah berasal dari kelompok orang-orang Tamil, dan Tabralingga yang
dipimpin Raja Kalingga, juga berasal dari kelompok Raja Indra. Perhubungan antara Kelompok Indra ini dapat
dibuktikan melalui peninggalan Prasasti Tamil di Asia Tenggara, terdapat beberapa
buah yang terdapat di pantai Indo China, diantaranya di Propinsi Krabi dan satu
di Nakon Sri Tammarat dan satu lagi di Barus.
Dengan demikian, tidak dapat di
pertikaikan bahwa antara masyarakat pendiri Mandala Holling, yang sebelumnya
merupakan imigran terakhir dari Lobu Tua dari Barus, berakhir di Hulu Kampar
Mbonang. Sri Tammarat, nama kota di Teluk Benggala, adalah berasal dari nama
Chandra Banhu, yani Raja Indra Varman ke VI.Maka kelompok Prasasti Tamil diatas
yang ditemukan pihak archeolog, merupakan bukti bahwa jalur perniagaan di selat
Melaka,Srilangka dan India yang berjaya dalam Abad ke XI-XII, telah dikuasai
oleh Kelompok Raja Indra dan pedagang India dari Kerala.
Telah kita ketahui, bawa dalam
tahun 1030-1080M anak cucu Indravarman ke VI telah berkembang di Hulu Kampar,
mereka telah mendirikan koloni sendiri yang disebut Balai Putuih, Anding.Di
bawah pimpinan seorang penghulub tertua, disebut Ninik Datuk Maharaja Indra.
Yakni sebuah kampong yang terletak di tepi Sungai Sinamar, Sementara itu Kaum emigran
yang berasal dari pimpinan Sangsapurba, bergelar Datuk Siri Maharajo telah
membina perkampongan di sekitarnya, bernama Balai Nan tuo, Mungkal. Perhubungan
dan perkawinan Silang antara kedua kawasan ini, ditambah kaum perniagaan yang
datang dari Pantai Barat Indo China (
Pattani) telah melahirkan satu perkampungan baru, sebuah pelabuhan sungai yakni
Si Melenggang. Di kampung ini, untuk pertama kalinya, karena dia merupakan
sebuah pelabuhan sungai, tempat ini di pimpin oleh seorang penghulu, yang pada awalnya
di sebut Datuk Orang Kaya Besar ,
yakni seorang yang menguasai perniagaan setingkat Syah Bandar. Pemekaran
wilayah antara tahun 1030-1050 M di hulu Kampar, sangat beralasan karena pada
ketika itu, Kerajaan Chola yang mencapai puncaknya dimasa pemerintahan Rayendra
meluaskan kuasanya ke Sriwijaya. Ia membawa perubahan sangat besar sampai
wilayah Sri Langka. Dalam catatan sejarah dapat diketahui, bahwa Chola
mempunyai hubungan dagang dengan Ayyavole sebuah perkumpulan Dagang yang
terdapat di Barus, yang jelas di bawah pengaruh raja-raja Syailendra dari
Bangsa Tamil ( Keling ).sumber *Abraham, 1988.hal.86-92. Dan K.A Nilakajnta
Sastri,”The Colas” Madras univ.of Madras.1984.hal.194-244.
Salah satu pemekaran wilayah itu
yang diketahui dalam sejarah Lokal Minangkabau, adalah perkawinan antara anak
Raja Chola dengan anak raja Indra yang datang dari utara bernama Indra Jelita,
pada tahun 1050 telah mendirikan sebuah negeri baru yang bernama Sungai Tarab.
Dikatakan, Bahwa Pengaruh Raja Indra juga memasuki wilayah
sumatera Utara,di Lobu Tua.Dengan bukti
bahwa pernah ditemukan sebuah Bodi Satwa yang jelas lebih bisa di anut di
srilangka dari pada warga Tamil-India ( Orang Keling) ketika itu.Sebuah bukti
lain sebuah gelang kaki Indra jelita tertinggal srilangka, yang sampai sekarang
tersimpan dalam salah satu museum di sana. Namun demikian, sifat tertutup orang
Tamil terhadap pendatang yang mencari
sumber-sumber emas sesudahnya menyebabkan para imigran dari bangsa lain tidak
mengetahui adanya sumber Emas di wilayah pantai Barat Sumatera dekat Rejang,
yakni wilayah yang dikuasai Raja Indra, dan disebut Kota Indra ( Indra Pura).
Kecuali emas, maka perniagaan kekayaan alam yang lain telah masuk ke bagian
pedalaman Sumatera melalui Muara Kampar, Patapahan, Koto Lamo dan terus ke
Hulunya, sampai di Simelenggang dan Sitanang Muaro lakin, ketika itu Sitanang
Muaro Lakin merupakan tempat Transit dan pengumpulan hasil alam dari pedalaman
Minangkabau yang akan di perdagangkan melalui Selat Melaka. Wilayah antara Simelenggang dan
Mbonang, terdapat anak sungai yang menghubungkan kedua negeri ini dengan lokasi
pencarian emas Manggani.Wilayah ini terhubung langsung ke batas akhir kawasan
kekuasaan Mandala Holing (Orang Keling) di Bukit Barisan.
Oleh Karena itu, tidak semua orang
dapat berleluasa memasuki wilayah Hulu Kampar, setelah terbentuknya Balai
Putuih, Balai Saruang, di Anding di
bawah rentang kendali Datuk Maharaja Indra. Wilayah Mungkal di bawah rentang
kendali Balai Datuk Siri Maharaja. Balai Batu, di bawah rentang kendali Datuk Bendahara di Mahat. Sementara untuk
menjalankan undang-undang adat, yang terang berdasarkan hukum-hukum Budha
Mahayana, di bawah rentang kendali Datuk Rajo Di Balai dengan 44 andiko di
wilayahnya. Sebagai pengawal terlaksananya sistim adat yang demikian, kedua
Ninik yang awal yakni Datuk Maharaja Indra dan Datuk Siri Maharaja telah
mengangkat seorang penghulu yang bergelar Datuk Raja Lelo, berkedudukan di
Kampong Dalam, penago-Mbonang. Sekaligus sebagai penanggung jawab Balai adat
nan panjang Mbonang sejak dahulu sampai sekarang telah berlaku turun temurun
menurut Sako Adat Gadang Manyimpang.
Perhubungan antara pedalaman
sumatera ( Minangkabau) dengan Muara Sungai Kampar dalam dunia perniagaan
tradisional telah di atur menurut tatalaksana adat. Ketiga Kampong yang asal,
yakni Anding, Mungkal, dan Simelenggang yang akan keluar atau akan memasuki
wilayah pedalaman akan di pandu oleh seorang penghulu.
Setiap ekspedisi dari pedalaman
Minangkabau yang melalui sungai Sinamar, Lintau, dan akan berhubung ke Kampar di
wilayah Talago Undang, Muara Takus, dan akan meliwati sungai dan hutan
belantara berkumpul dahulu di Kaki gunung bungsu. Tempat itu disebut Kampong Tiga Batu , maknanya adalah pertemuan
ke tiga kampong. Ditempat itu dipimpin seorang Penghulu, Datuk Laksamana
namanya. Beliau lah yang mengenal dengan baik dan bertanggung jawab untuk
keselamatan ekspedisi antara pedalaman sumatera sampai ke Kampong Domo, Wilayah
Muara Takus dan Muara Sungai Kampar untuk kemudian berlepas mengharungi laut selat Melaka.
Sementara itu, pengembangan
Wilayah Adat telah berkembang di Muara Takus sampai antara tahun 1223M sampai
masuknya pengaruh Hindu yang dibawa oleh Raja Sri Aditya. Pengaruh ini telah
berlansung dari tahun 1223M sampai tahun
1250 M dengan pengembangan negeri-negeri bercorak Hindu Budha, seperti
Taeh,Blubuh, Guguk,dan Godam..dimana sistim Hindu-Budha di jalankan sampai
masuknya pengaruh Hindu Bhairawa masa
kedatangan Adityawarman tahun 1331.M.
Pada ketika itu, Perniagaan dari
Sumatera telah berlangsung seprti telah di uraikan. Bila diperkirakan dalam
tahun 1050 M Sang Sebelum menikah kembali dengan Cheti Bilang Pandai, seorang
saudagar kaya dari Puar Datar, bisa dimaklumi bahwa Sutan Balun sudah menjadi
seorang Pemuda yang diperkirakan berumur 30 tahunan dalam tahun 1080. Diantara
rentang waktu yang demikian, antara 1080 sampai tahun 1250 M, telah terjadi
pengembangan wilayah adat yang ketika itu bernama Pulau Paco.Perkiraan ini
diperkuat dengan temuan batu megalith di Pariangan yang bertarikh tahun 1250, Ketika
itu diketahui Datuk Perpateh Nan sebatang telah meninggal dunia di kawasan Solok.
Ada rentang waktu antara tahun
1250 sampai 1275M yakni selama 25 tahun perilaku sejarah bertumpu pada masa
ekspedisi Pamalayou di sekitar Batang Hari. Masuknya pengaruh Majapahit dibawah
pimpinan Kebo Anabrang ke pedalaman Minangkabau, sampai masuknya pengaruh
Adityawarman di Suravaca ( Sruaso ) pada tahun 1331M dalam konsep pencaraharian
emas di kampong Sungai emas.Wilayah Saruaso. Kampong ini sebelumnya didirikan
oleh Indo Jolito.Di tempat itu Adityawarman menggelar dirinya sebagai Yang
Dipertuan Suravaca. Enam tahun kemudian Adityawarman menggelar dirinya sebagai
SRIMAHARAJA DIRAJA.Sebagai pengganti gelar yang dipegang oleh Suami Indojolito,
yakni Datuk Srimaharaja.( Lihat Prasasti Bukit Bergombak II).
Dengan demikian dapatlah di
maklumi bahwa kedatangan Adityawarman ke pedalaman sumatera yang ketika itu
disebut juga pulau Perca, adalah merupakan perebutan wilayah sumber emas di
Sungai Emas,wilayah Bukit bergombak, Tanah Datar (saat ini) sekaligus
pergantian pengaruh kepercayaan antara penganut Budha Mahayana kepada Pengikut
Adityawarman yang menganut Hindu
Bhairawa. Pemahaman ini diperkuat dengan sebuah bukti sebuah prasasti yang di
sebut Batu Banda Bapahek, dinegeri Saruaso yang masih ada sampai saat ini.
Disitu Adityawarman menyebut bahwa dia mempunyai sebagian rakyat dari India.
Bila hanya sebagian rakyatnya yang dari India, tentu saja bagian dari rakyatnya
yang lain adalah masyarakat yang sudah ada, yakni wilayah negeri yang telah
didirikan Indo Jolito yang ketika itu dibawah kepemimpinan Datuk Ketumanggungan
dan Datuk Perpateh Nan sebatang.
Siapakah Datuk Perpateh Nan
sebatang dan Datuk Ketumanggungan di
maksud? Karena Pada ketika inilah Kisah Tambo Minangkabau bermula, bahwa pada
tahun 1337 ketika Adityawarman sampai di Suravaca, maka Datuk Katumanggungan,
yang merupakan anak tertua dari Indo Jolito telah tiada.Dalam beberapa sumber
diketahui bahwa orang-orang Keling yang berbasis dari Mandala Holing telah
menghilang dan keluar dari Pulau Perca
di akhir abad ke XI melalui wilayah pencarian emas melalui wilayah
Mbonang. Sedangkan Indo Jolito telah kembali ke tempat ayahnya, Indo Jati dalam
kawasan kerajaan Indro Puro.
Saya katakan demikian, karena
apabila Katumanggungan lahir dalam antara tahun 1050, maka usia Datuk
katumanggungan Tidak mungkin sampai 287 tahun lamanya untuk mencapai tahun 1337M
dan serta merta mengawinkan seorang anaknya dengan adityawarman. Maka perlu
dipertanyakan Apakah benar Kisah Tambo
yang menyatakan bahwa Adityawarman menjadi seorang Semenda? Masih perlu di
Buktikan. Sesungguhnya Adityawarman
hanyalah seorang Semenda yang di Rajakan dalam keluarga yang mungkin berasal
dari Keturunan Datuk Ketumanggungan saja, yakni sebagai
suami dari seorang perempuan bernama
Puteri Jamilan.( Wallahu alam )
Sementara itu, perlu juga
diketahui bahwa dalam tahun 1068 Sriwijaya diserang kembali oleh Kerajaan
Colamandala dari India.Raja Sri Sanggamawijaya
Tungga Dewa di tawan.Jalur perniagaan dari Sriwijaya ke Semenanjung
Malaya menjadi hancur.Dua puluh Tahun kemudian, dalam tahun 1088, kerajaan
Melayu Jambi yang semula adalah kerajaan kecil yang dahulunya naungan
Sriwijaya, menjadi berbalik menjadikan Sriwijaya sebagai daerah Taklukannya.
Kerajaan Melayu di jambi berkuasa selama 2 abad lamanya.Dengan itu, jalur perniagaan
dari Sriwijaya ke Selat Melaka menjadi berubah, antara Indra Giri ( Sungai
Indra) dan Muara Kampar menuju selat Melaka.
Akibat munculnya kekuatan
kerajaan Melayu di Jambi, sementara di wilayah sepanjang aliran Batang Kampar
yang dikuasai oleh pengikut Indravarman telah membentuk sistim adat yang
berpusat di Balai Putus Anding dan Balai Nan tuo Mungkal , juga mengalami
penyempurnaan.Setiap ekspedisi perdagangan yang akan menempuh jalur perniagaan
Selat Melaka dipimpin oleh seorang Penghulu yang disebut Datuk Laksamana (
Datuk Ulak ) yang berkedudukan di Tiga Batu ( Pertemuan tiga Negari). Yang pada
gilirannya ketiga asal nama negari yang menjadi tempat transit di Minangkabau
menjadi nama suku di Semenanjung Malaya, yakni Melaka. Suku-suku itu adalah
suku Simelenggang, Suku Mungkal dan suku Tiga Batu.
Anthonyswan.Pi.Ar
Trah keturunan Raja
Indravarman ke VI
Gelar Dato Paduka Rangkayo Besar Bertuah
Monti Adat Datuk Patih Besar-Balai Nan
Panjang,Mbonang.Hulu
Kampar.Minangkabau.